Konservasi Rumah Abu, Kampung Kapitan 7 Ulu, Palembang
Indonesia memiliki keanekaragaman suku dan budaya, dimana mempengaruhi gaya arsitektur suatu bangunan atau suatu kawasan. Pada zaman dahulu beberapa bangunan dipengaruhi oleh pengaruh dari bangsa luar mulai dari Inggris, Belanda, sampai dengan Cina. Berikut adalah salah satu contoh pelestarian atau konservasi pada sebuah bangunan peninggalan masa lalu.
Kampung Kapitan di Palembang beralamat di Kelurahan 7 ulu, Seberang Ulu I, Palembang. Di Kampung Kapitan terdapat Rumah Kapitan, aslinya berukuran 22 meter x 25 meter sebelum bagian belakangnya diberi bangunan tambahan sehingga memiliki panjang sekitar 50 meter. Bangunan induk yang berisi meja sembahyang dan foto-foto para Kapitan itu masih menampakkan keaslian pada bagian bangunannya. Demikian juga bagian atap yang memakai genting belah buluh (bambu). Rumah ini diperkirakan dibangun sekitar akhir tahun 1600-an.
Rumah Kapitan kini disebut juga Rumah Abu ini merupakan bangunan cagar budaya yang bernilai penting bagi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, terutama dalam kaitannya dengan studi perkembangan arsitektural bangunan cagar budaya di Indonesia.
Sedangkan pada bagian
eksteriornya hanya beberapa yaitu pada ornamen handrail dan dinding. Dalam hal
ini bangunan yang dikonservasi merupakan bangunan bersejarah arsitektur Cina
Belanda yang sudah langka karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang warisan
budaya yang berdampak pada hilangnya satu per satu bangunan arsitektur Cina
Belanda yang ada. Hal tersebut juga membuat berkurangnya nilai kebudayaan,
nilai sejarah, serta nilai sosial yang terkandung dalam bangunan dan lingkungan
sekitar Rumah Abu tersebut hampir musnah.
Berikut adalah tabel masalah dan
solusi konservasi terhadap Rumah Abu di Kampung Kapitan 7 Ulu Palembang
No
|
Objek
|
Perlakuan
|
1.
|
Tampak Depan
|
Pada
tampak depan Rumah Abu harus tetap dipertahankan karena menggunakan langgam
dari tiga kebudayaan yaitu Palembang, Cina, dan Belanda. Dari tampak bangunan
Rumah Abu ini diketahui bahwa bangunan ini merupakan tengaran pada lingkungan
komplek Kampung Kapitan di Palembang. Akan lebih baik lagi lumut pada dinding
bata dibersihka, plesteran pada dinding dan kolom diperbaiki, dan balustrade
yang sudah hilang dibuat dengan menggunakan material yang baru tetapi dalam
bentuk yang sama.
|
2.
|
Struktur
|
Kerusakan
pada atap di bagian belakang rumah terjadi karena faktor cuaca hujan maupun
panas yang membuat genting tersebut menjadi hancur. Karena tidak segera
diperbaiki maka kerusakan tersebut terjadi sampai ke struktur atap yang
membuat kayu-kayu pada rangka atap menjadi lapuk. Sedangkan pada struktur
balok penopang
talang
air tidakterjadi kerusakan yang signifikan dan masih kuat sampai saat ini.
Ada baiknya kerusakan pada struktur atap diperbaiki dengan bahan material
baru yaitu kayu unglen dan tembesu dan mengikuti bentuk asli dari struktur
Rumah Abu.
|
3.
|
Tata
Ruang
|
Bentuk
denah merupakan perpaduan arsitektur rumah limas Palembang dan arsitektur
tradisional Cina yang memiliki courtyard di tengah-tengah bangunan. Bentuk
denah ini tetap dipertahankan dan tidak diubah-ubah sesuai dengan bentuk asli
dari Rumah Abu dari awal pembangunan sampai sekarang
|
4.
|
Bahan
|
Perlu
dilakukan upaya pengembalian ke material asli sesuai dengan data yang ada.
Pengembalian ini disesuaikan dengan data kondisi lapangan, literatur, analogi
bangunan, sumber foto kuno dan data hasil wawancara dengan narasumber.
Dilakukan untuk mendapatkan data mengenai jenis material yang digunakan,
komposisi dan kekuatannya. Sampel material kayu (atap, struktur atap, plafon,
dinding, dan lantai) dan bata merah (dinding, kolom, dan pondasi) melalui
pendokumentasian yang akurat terhadap sebagai bangunan yang akan
dikonservasi.
|
5.
|
Warna
|
pada
dinding bata dan kolom kolonial. Sedangkan warna untuk kayu ada beberapa yang
masih asli da ada yang sudah hilang.
Warna
pada Rumah Abu ini harus dipertahankan agar suasana keaslian dari bangunan
ini tetap terasa selamanya.
|
6.
|
Ornamen
|
ornamen
pada pintu, jendela, ventilasi, dan balustrade harus dipertahankan dan dibuat
dokumentasi sebagai bukti bahwa keberadaan ornamen benar ada apabila nantinya
tiba-tiba hilang. Sedangkan ornamen arsitektur tradisonal Cina pada balok
penyangga talang air ini harus tetap dipertahankan, dan ada baiknya jika
talang air diperbaiki agar beban pada struktur penyangga tidak terlalu berat
yang dapat mengakibatkan struktur menjadi patah.
|
7.
|
Suasana
|
Suasana
depan Rumah Abu dulu merupaka suasana perkampungan yang terdapat sebuah
halaman luas untuk anak – anak bermain namun tidak terawat.
Kini
halaman luas tersebut didesain dengan pola – pola taman agar menarik
pengunjung dan memberikan keindahan pada
Rumah Abu itu sendiri.
|
Berikut
adalah penampilan Rumah Kapitan / Rumah Abu sekarang ini:
Sumber:
1. malaya.or.id/index.php/palembang-the-legendary-city/
2. tribunnews.com/travel/2015/06/14/kampung-kapitan-palembang-jejak-pertama-keturunan-tionghoa
3. journal.unpar.ac.id/index.php/unpargraduate/article










