Friday, 25 November 2016

Tipologi Bangunan Kantor Swasta: Kantor Wisma Dharmala Tower


A.      Tipologi (dalam Arsitektur dan Perancangan Kota)
Tipologi adalah klasifikasi (biasanya berupa klasikasi fisik suatu bangunan) karakteristik umum ditemukan pada bangunan dan tempat-tempat perkotaan, menurut hubungan mereka dengan kategori yang berbeda, seperti intensitas pembangunan (dari alam atau pedesaan ke perkotaan) derajat, formalitas, dan sekolah pemikiran (misalnya, modernis atau tradisional). Karakteristik individu tersebut membentuk suatu pola. Kemudian pola tersebut berhubungan dengan elemen-elemen secara hirarkis di skala fisik (dari detail kecil untuk sistem yang besar).

B.      Definisi Perkantoran
Kantor (dari bahasa Belanda kantoor, sendirinya dari bahasa Perancis comptoir) adalah sebutan untuk tempat yang digunakan untuk perniagaan atau perusahaan yang dijalankan secara rutin. Kantor bisa hanya berupa suatu kamar atau ruangan kecil maupun bangunan bertingkat tinggi.
Pengertian Kantor Menurut Para Ahli
  1. Ulbert Silalahi
Menurut Ulbert Silalahi, kantor merupakan tempat dilaksanakannya aktivitas atau pun kegiatan ketatausahaan, yaitu berupa unit kerja yang terdiri dari ruangan, peralatan, dan pekerjanya.
  1. Moekijat
Menurut Moekijat, pengertian kantor adalah sebuah tempat yang digunakan untuk melakukan atau pun mengejakan pekerjaan tertentu.
  1. C. Denyer
Menurut C. Denyer, kantor bisa berada di lokasi manapun dan dapat disebut dengan istilah apa pun dimana aktivitas atau pun kegiatan pekerjaan bisa dilaksanakan.

C.      Wisma Dharmala Sakti / Intiland Tower
1.       Deskripsi Proyek 



Nama Bangunan : Wisma Dharmala / Intiland Tower
Lokasi : Jl.Jend.Sudirman kav.32, Jakarta Pusat
Type : Kantor
Arsitek : Paul Rudolph ( USA )
Luas Bangunan : 59.838,65m²
Jumlah lantai : 1 basement + 22 lantai
Tahun  : 1982 – 1986
Pemilik : PT. Intiland Development Tbk
Pengelola  : PT. Intiland Development Tbk (IHMP)

2.       Pembahasan Tipologi Bangunan

Didirikan tahun 1986 oleh arsitek Paul Rudolph. Rudolph terinspirasi dari bentuk atap-atap di Indonesia yang memiliki overstek karena merespon iklim tropisnya sehingga apabila di dalam gedung tidak akan secara langsung diterpa cahaya matahari. Terdapat pula void yang cukup besar sehingga udara sejuk masih terasa di dalanya tanpa kehujanan saat merasakannya. Bahkan di perencanaan awal, bangunan ini sebenarnya tidak perlu menggunakan pendingin ruangan. Namun seiring berjalannya waktu dan efek rumah kaca ttelah memberi panas yang cukup parah dan tidak menentu, akhirnya bangunan ini menggunakan pendingin ruangan. Namun pada koridor hal tersebut masih tidak diperlukan karena udara sejuk masih dapat masuk. Pencahayaan lampu pada siang hari juga tidak terlalu diperlukan pada koridor karena cahaya matahari masih dapat masuk tanpa pengguna merasa terik maupun kehujanan.

3.       Konsep

Artikulasi yang mendalam menara patung ini dengan ritme berulang-nya, balkon kantilever dan lansekap, mengecilkannya untuk sampai ke podium untuk konsisten dengan konteks perkotaan langit-langit rendah khas dari daerah sekitarnya. Rudolph merencanakan atrium terbuka ini, dikelilingi oleh ruang publik, seolah-olah "orang-orang, dengan akses yang mudah dan berbagai visual yang semua orang miliki."

Konteks dan rasa tempat, begitu penting dalam arsitektur Rudolph, telah dicapai dalam proyek ini melalui interaksi ruang ini pada tingkat yang lebih rendah, di mana penghuni bisa berjalan dan bergerak di dalam gedung. Lingkungan ini didapat dari persyaratan struktural dan fungsional. Semua menara Dharmala adalah sebuah kesaksian yang meyakinkan dari pekerjaan dan waktu Paul Rudolph, menegaskan kembali prinsip-prinsip desain yang berkembang sepanjang hidupnya.

                              4.       Deskripsi




Tipikal Plan
26 tingkat menara, dengan bentuk tanaman persegi dengan tujuan untuk membuatnya memperoleh bentuk salib, membuat lantai alternatif dengan balkon dan teras pipa, termasuk ruang kantor, yang membiarkan cahaya alami masuk dengan ventilasi yang baik, dimana  konsep ini merupakan permainan Rudolph di sebagian besar proyeknya. Menurut syarat bangunan lokal tidak diperbolehkan penggunaan beton ekspos, sehingga menara benar-benar tertutup dengan keramik putih terang. bentuk yang dihasilkan sangat mengejutkan bahwa Dharmala Tower menggunakannya sebagai simbol perusahaan.



                                  5.       Cantilever

Pada semua jendela dibangun miring overhang yang melindungi dari sinar matahari langsung dalam iklim panas dan lembab dari Jakarta, di mana shade dan angin dibiarkan masuk.
     "Arsitektur tradisional Indonesia menawarkan berbagai solusi untuk masalah iklim yang hangat dan lembab. Unsur pemersatu keragaman ini adalah ceiling/langit-langit." (Paul Rudolph)
Dalam konteks ini, Rudolph merancang suatu sistem arsitektur yang mengemulasi keindahan atap tradisional daerah ini dari Jakarta, menggabungkan atap yang mendalam dan overhang dengan spandrels dari 45 ยบ. Dua kolom kembar milik struktur dan melintasi hubungkan ujung proyeksi ini, menegaskan kembali pikiran bahwa Rudolph percaya bahwa kolom yang berdekatan membuat proporsi yang lebih baik dan memberikan kekuatan dan arah pandang, sebuah prinsip yang jelas ditunjukkan di fasad bangunan ini.
Keseimbangan visual kolom ini, bersama-sama dengan spandrels horisontal menciptakan lanskap scluptural yang kaya, yang akan memungkinkan sebuah bangunan yang lebih tinggi, sesuai dengan desain asli.
Dalam Dharmala, kolom kolom yang serupa menyatu dalam bentuk dasar silang, mirip dengan penguatan struktur diagonal terkenal Hong Kong & Shanghai Bank of Norman Foster.


-          Atrio

Pada ground level, area pintu masuk dengan banyak balkon dan trotoar tingkat terbuka tidak hanya menciptakan kesan ruang yang cocok untuk jenis bangunan, namun juga mengelilingi atrium dan menyediakan sirkulasi udara dingin dan teduh
Efek yang dicapai Rudolph menunjukkan kemampuan untuk menciptakan ruang publik yang bagus di dalam bangunan yang atasnya memiliki menara perkantoran besar.  kantor yang berlapis lapis ini tidak hanya mengatur pintu masuk utama dan parkir, juga memiliki enam lantai perkantoran, toko-toko, bank, dan area pameran.
 
-          Patio

Perimeter melengkung, meningkat secara bertahap, seperti kerucut terbalik memungkinkan cahaya alami yang tercermin dalam warna terang yang mengelilingi ruang halaman tengah. Kelompok kolom dipasangkan, yang terletak di menara, bergerak keatas secara anggun dari tengah halaman.
Beberapa tingkat teras dan balkon, dengan kotak tanaman hijau mereka, melompati saluran air seperti air mancur, selaras dengan lingkungan sekitarnya dan dibuat khusus untuk skala manusia

                                 6.       Material
Struktur ini menggunakan beton bertulang dan baja. Secara menyeluruh pada bangunan, kolom, dinding, pagar dan balkon, dibuat dengan ubin putih. finish ini tidak hanya melindungi beton terhadap cetakan, karena cuaca lembab di daerah, menjadi masalah umum di Indonesia, juga menciptakan rasa elegan keren, rapih, sementara ubin skala kecil memberikan tekstur yang menyenangkan pada bangunan besar ini.






Refrensi
-          http://www.streetdirectory.com/indonesia/jakarta/travel/travel_id_258/travel_site_4666/travel_no_Kav.+32/

Tuesday, 22 November 2016

Arsitektur Tropis

  1. Apakah Yang Dimaksud Dengan Arsitektur Tropis ?
Arsitektur tropis adalah jenis arsitektur yang memberikan jawaban/ adaptasi bentuk bangunan terhadap pengaruh iklim tropis, dimana iklim tropis memiliki karakter tertentu yang disebabkan oleh panas matahari, kelembapan yang cukup tinggi, curah hujan, pergerakan angin, dan sebagainya. Pengaruhnya otomatis terhadap suhu, kelembapan, kesehatan udara yang harus di antisipasi oleh arsitektur yang tanggap terhadap hal-hal tersebut. Selain itu pandangan baru mencakup pada penggunaan material yang memberikan ciri karakter material lokal (daerah tropis) yang lebih sesuai daripada material impor.

  1. Bagaimana Bentuk Bangunan Pada Arsitektur Tropis?
Bentuk arsitektur tropis, tidak mengacu pada bentuk yang berdasarkan estetika, namun pada bentuk yang berdasarkan adaptasi/ penanganan iklim tropis. Meskipun demikian bentukan bangunan oleh arsitek/desainer yang baik akan memberikan kualitas arsitektur yang estetis, hal ini karena selain memperhatikan bagaimana menangani iklim tropis, juga memperhatikan bagaimana kesan estetika eksterior dan interior dari bangunan tersebut.
Bentuk secara makro sangat memperhatikan faktor panas dan hujan, dimana untuk menangani hal tersebut maka arsitektur tropis yang baik akan memperhatikan bagaimana bangunan tidak panas dan ketika hujan tidak tampias, selain itu terdapat kualitas kenyamanan berkaitan dengan suasana panas dan dingin yang ditimbulkan oleh hujan, biasanya dibuat teras untuk memberikan perlindungan serta menikmati iklim tropis yang bersahabat.
Bentuk secara mikro pada masing-masing elemen bangunan seperti jendela dengan bentuk lebar, berjalusi, berkanopi, atau semacam itu. Bentuk bangunan tropis dari kayu biasanya merupakan bangunan panggung dengan lantai yang diangkat dengan harapan terhindar dari banjir akibat hujan, memang merupakan kualitas rancangan yang sudah berhasil sejak dulu.
Berikut contoh bangunan yang menganut bentuk arsitektur tropis

(Rumah tradisional Joglo)
 (Perumahan tradisional Pulau Samosir)
  1. Bagaimana Ciri Ciri Pada Arsitektur Tropis?
Mungkin untuk sebagian orang kata Tropis tidak asing lagi, karena Tropis merupakan suatu gambaran keadaan posisi negara kita yang memiliki 2 musim (Hujan dan Kemarau). Jika kita perhatikan lebih seksama terhadap bangunan-bangunan tradisional kita yang beranekaragam dari sabang hingga merauke, kita akan kagum terhadap hasil karya para perancangnya. Kita yakin saat itu pasti belum ada yang namanya pendidikan tentang bangunan atau sejenisnya.
Tapi kita patut acungkan jempol, karena nenek moyang kita dapat menerapkan konsep bangunan yang begitu maksimal terhadap bangunan-bangunannya. Mereka amat memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya, bukan hanya faktor kenyamanan saja tapi nilai estetika bisa kita rasakan dibeberapa sudut ruang baik interior atau eksteriornya.
Bahan yang digunakan juga kalau kita perhatikan sepertinya hasil pilihan yang terbaik yang ada di daerahnya. Teknis pengerjaan sangat dituntut ketelitian dan keahlian. Pemilihan warna yang sepertinya tetap konsisten dengan warna-warna alam. Urutan ruang terbentuk akibat aktivitas sipemilik bangunan tersebut, demikian pula dengan tinggi rendahnya ruang ini sangat berkaitan dengan kondisi sipemilik saat itu.
Jika kita simpulkan dari hal-hal diatas, sebenarnya bangunan tradisional kita adalah acuan yang paling sesuai untuk menggambarkan bagaimana bangunan Tropis itu.
  1. Atap yang sebagian besar berbentuk runcing keatas, walaupun ada pula yang melengkung.
  2. Memiliki overstek, yang berfungsi untuk menjaga tempias dan cahaya berlebihan.
  3. Banyak bukaan-bukaan, baik jendela atau lobang-lobang angin.
  4. Banyak menggunakan material alam, seperti: Kayu, Batu, bambu, dll.
  5. Dinding, Lantai, dll biasanya menggunakan warna-warna alam.
  6. Tumbuh-tumbuhan, Air, dll disekitar bangunan sedapat mungkin didesain agar menjadi satu kesatuan dengan bangunan.
  7. Ukuran dan tataruang bangunan disesuai dengan kebutuhan.
  8. Memaksimalkan pengudaraan dan pencahayaan alami.
  9. Bagaimana Kriteria Perencanaan pada Iklim Tropis?
Kondisi iklim tropis lembab memerlukan syarat-syarat khusus dalam perancangan bangunan dan lingkungan binaan, mengingat ada beberapa factor- faktor spesifik yang hanya dijumpai secara khusus pada iklim tersebut, sehingga teori-teori arsitektur, komposisi, bentuk, fungsi bangunan, citra bangunan dan nilai-nilai estetika bangunan yang terbentuk akan sangat berbeda dengan kondisi yang ada di wilayah lain yang berbeda kondisi iklimnya. Menurut DR. Ir. RM. Sugiyatmo, kondisi yang berpengaruh dalam perancangan bangunan pada iklim tropis lembab adalah, yaitu :
  1. Kenyamanan Thermal
Usaha untuk mendapatkan kenyamanan thermal terutama adalah mengurangi perolehan panas, memberikan aliran udara yang cukup dan membawa panas keluar bangunan serta mencegah radiasi panas, baik radiasi langsung matahari maupun dari permukaan dalam yang panas.
Perolehan panas dapat dikurangi dengan menggunakan bahan atau material yang mempunyai tahan panas yang besar, sehingga laju aliran panas yang menembus bahan tersebut akan terhambat.Permukaan yang paling besar menerima panas adalah atap. Sedangkan bahan atap umumnya mempunyai tahanan panas dan kapasitas panas yang lebih kecil dari dinding. Untuk mempercepat kapasitas panas dari bagian atas agak sulit karena akan memperberat atap. Tahan panas dari bagian atas bangunan dapat diperbesar dengan beberapa cara, misalnya rongga langit-langit, penggunaan pemantul panas reflektif juga akan memperbesar tahan panas.
Cara lain untuk memperkecil panas yang masuk antara lain yaitu :
  1. Memperkecil luas permukaan yang menghadap ke timur dan barat.
  2. Melindungi dinding dengan alat peneduh. Perolehan panas dapat juga dikurangi dengan memperkecil penyerapan panas dari permukaan, terutama untuk permukaan atap.
Warna terang mempunyai penyerapan radiasi matahari yang kecil sedang warna gelap adalah sebaliknya. Penyerapan panas yang besar akan menyebabkan temperatur permukaan naik. Sehingga akan jauh lebih besar dari temperatur udara luar. Hal ini menyebabkan perbedaan temperatur yang besar antara kedua permukaan bahan, yang akan menyebabkan aliran panas yang besar.
  1. Aliran Udara Melalui Bangunan
Kegunaan dari aliran udara atau ventilasi adalah :
  1. Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yaitu penyediaan oksigen untuk pernafasan, membawa asap dan uap air keluar ruangan, mengurangi konsentrasi gas-gas dan bakteri serta menghilangkan bau.
  2. Untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan thermal, mengeluarkan panas, membantu mendinginkan bagian dalam bangunan.

Aliran udara terjadi karena adanya gaya thermal yaitu terdapat perbedaan temperature antara udara di dalam dan diluar ruangan dan perbedaan tinggi antara lubang ventilasi. Kedua gaya ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendapatkan jumlah aliran udara yang dikehendaki. Jumlah aliran udara dapat memenuhi kebutuhan kesehatan pada umumnya lebih kecil daripada yang diperlukan untuk memenuhi kenyamanan thermal. Untuk yang pertama sebaiknya digunakan lubang ventilasi tetap yang selalu terbuka. Untuk memenuhi yang kedua, sebaiknya digunakan lubang ventilasi yang bukaannya dapat diatur.
  1. Radiasi Panas
Radiasi panas dapat terjadi oleh sinar matahari yang langsung masuk ke dalam bangunan dan dari permukaan yang lebih panas dari sekitarnya, untuk mencegah hal itu dapat digunakan alat-alat peneduh (Sun Shading Device).
Pancaran panas dari suatu permukaan akan memberikan ketidaknyamanan thermal bagi penghuni, jika beda temperatur udara melebihi 40C. hal ini sering kali terjadi pada permukaan bawah dari langit-langit atau permukaan bawah dari atap.
(Beberapa jenis shading device)
  1. Penerangan Alami pada Siang Hari
Cahaya alam siang hari yang terdiri dari :
  1. Cahaya matahari langsung.
  2. Cahaya matahari difus
Di Indonesia seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya cahaya ini untuk penerangan siang hari di dalam bangunan. Tetapi untuk maksud ini, cahaya matahari langsung tidak dikehendaki masuk ke dalam bangunan karena akan menimbulkan pemanasan dan penyilauan, kecuali sinar matahari pada pagi hari. Sehingga yang perlu dimanfaatkan untuk penerangan adalah cahaya langit.
Untuk bangunan berlantai banyak, makin tinggi lantai bangunan makin kuat potensi cahaya langit yang bisa dimanfaatkan. Cahaya langit yang sampai pada bidang kerja dapat dibagi dalam 3 (tiga) komponen :
  1. Komponen langit.
  2. Komponen refleksi luar
  3. Komponen refleksi dalam
Dari ketiga komponen tersebut komponen langit memberikan bagian terbesar pada tingkat penerangan yang dihasilkan oleh suatu lubang cahaya. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya tingkat penerangan pada bidang kerja tersebut adalah :
  1. Luas dan posisi lubang cahaya.
  2. Lebar teritis
  3. Penghalang yang ada dimuka lubang cahaya
  4. Faktor refleksi cahaya dari permukaan dalam dari ruangan.
  5. Permukaan di luar bangunan di sekitar lubang cahaya.
Untuk bangunan berlantai banyak makin tinggi makin berkurang pula kemungkinan adanya penghalang di muka lubang cahaya. Dari penelitain yang dilakukan, baik pada model bangunan dalam langit buatan, maupun pada rumah sederhana, faktor penerangan siang hari rata-rata 20% dapat diperoleh dengan lubang cahaya 15% dari luas lantai, dengan catatan posisi lubang cahaya di dinding, pada ketinggian normal pada langit, lebar sekitar 1 meter, faktor refleksi cahaya rata-rata dari permukaan dalam ruang sekitar 50% – 60% tidak ada penghalang dimuka lubang dan kaca penutup adalah kaca bening
  1. Apa yang membedakan antara Arsitektur Tropis dengan Arsitektur Tradisional?
Arsitektur tropis merupakan prinsip desain, sedangkan arsitektur tradisional merupakan kebudayaan arsitektur yang turun-temurun dan digetok-tularkan melalui kebudayaan. Arsitektur tropis tidak harus tradisional, tapi biasanya arsitektur tradisional masyarakat sudah sangat memperhatikan prinsip-prinsip arsitektur tropis meskipun tidak tertulis, tapi sudah terlihat melalui bangunannya.
Arsitektur tropis gaya baru bisa memakai material apa saja dan tidak harus terpaku pada tradisi karena banyak perubahan paradigma terutama penggunaan material baru, asalkan masih memperhatikan bagaimana menangani iklim tanpa menggunakan penanganan 'modern' terhadap iklim, misalnya: bangunan tropis seharusnya tidak memakai AC dan pencahayaan buatan pada siang hari, karena sudah mengandalkan iklim tropis yang sebenarnya mendukung untuk itu. Karena arsitektur tropis memperhatikan iklim, maka penanganan arsitektur yang berkaitan dengan iklim seperti mempertahankan suhu nyaman, kelembaban, dan sebagainya juga menggunakan potensi dari iklim tropis tersebut.
  1. Apa Saja Material Umum Yang Digunakan Pada Bangunan Arsitektur Tropis?
  2. Kayu,
material kayu dan karakter kulitnya bisa menjadikan rumah Anda bergaya tropis, namun bisa juga menampilkan gaya klasik. Bahan kayu pada desain rumah tropis dapat Anda buat tampil lebih menarik dan tahan lama dengan memberi lapisan cat khusus untuk kayu seperti produk cat kayu SANLEX Sintetik. Dengan begitu, rumah tropis berornamen kayu akan lebih tahan lama.
  1. Batu alam,
batu-batu ini biasanya dikenal dengan batu-batu kali yang sudah dibentuk.Material batu alam akan membuat rumah tropis terlihat lebih natural. Anda bisa ciptakan tampilan batu alam yang kian alami, menarik, serta tahan lama dengan memberi lapisan pelindung yaitu cat khusus untuk batu, misalnya ARCA Seri Perlindungan Batu Alam.
  1. Bambu,
rumah tropis dengan material bambu saat ini sudah banyak kita jumpai. Pemakaian bambu pada interior rumah tropis yaitu bisa lewat keberadaan furnitur kursi dan meja yang mampu membawa nuansa yang sangat sederhana namun akan terlihat segar. Aplikasi bambu pada hunian tropis juga bisa dalam bentuk bilik bambu, yaitu bambu yang diraut tipis kemudian dianyam. Bilik bambu dahulu identik dengan material rumah di perkampungan. Namun, sekarang bilik menjadi perhatian masyarakat kota untuk dipakai sebagai interior rumah seperti rumah bergaya tropis.
  1. Serabut kelapa atau injuk,
gunakan serabut kelapa yang berwarna hitam dan biasa dipakai sebagai penutup atap, seperti gazebo.
  1. Bagaimana Dampak Penerapannya?
Dampak Lingkungan Penerapan Arsitektur Tropis
Arsitektur Tropis adalah suatu konsep bangunan yang mengadaptasi kondisi iklim tropis. Letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa membuat Indonesia memiliki dua iklim, yakni kemarau dan penghujan. Pada musim kemarau suhu udara sangat tinggi dan sinar matahari memancar sangat panas. Dalam kondisi ikim yang panas inilah muncul ide untuk menyesuaikannya dengan arsitektur bangunan gedung maupun rumah yang dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya.
Dampak Jangka Pendek (sekarang)
Dampak jangka pendek atau dampak yang langsung bisa dinikmati dengan penerapan konsep arsitektur tropis adalah :
o Terciptanya kenyamanan dalam hunian. Karena sirkulasi udara tercukupi, membuat hawa dalam ruangan menjadi nyaman
o Penghematan Energi, karena untuk penerangan dan penghawaan memanfaatkan sumber energi alam.
Dampak Jangka Panjang
Dampak yang akan di nikmati beberapa tahun kemudian, jika arsitektur tropis diterapkan adalah :
o Terjaganya kelestarian alam karena konsep arsitektur tropis menyatu dengan alam bukan merusak alam
o Akan semakin berkembangnya konsep arsitektur tropis jika banyak peminatnya.
  1. Bagaimana Contoh Analisa Bangunan Yang Menerapkan Prinsip Arsitektur Tropis?
Analisa gedung prof. Sudharto terhadap iklim tropis
Deskripsi Gedung : Gedung Prof. Sudarto
Orientasi Bangunan : Barat
Posisi Gedung : Menghadap Barat
Gedung Prof. Sudarto merupakan gedung pertemuan atau convention, untuk menampung kegiatan kegiatan Universitas. Terletak di kampus Undip tembalang. Kapasitas manusia untuk kegiatan di dalam gedung adalah kurang lebih 1000.
Tabel Analisis Kondisi Eksisting Gedung Soedarto undip
Kemiringan TeritisanMaterial yang dipakai genting
Kemiringan <45derajat
PlafondKayu
Gypsum
JendelaJendela kaca, kusen kayu
Bukaan jendela sejajar dinding
  1. Pengaruh Aspek Matahari
Gedung Soedarto memiliki dinding dan jendela yang membatasi sinar matahari untuk masuk ke dalam bangunan. Pada saat siang hari, kadang masih perlu diberi lampu di dalam bangunan dikarenakan kebutuhan akan cahaya yang besar. Berkaitan dengan kegiatan di dalam bangunan ini, yaitu seminar, wisuda, tak jarang pula kegiatan konser musik terselenggara di dalam bangunan ini.
Pada sisi bagian barat yang merupakan entrance dari bangunan ini, terdapat beberapa jendela untuk jalan masuknya sinar matahari. Namun, karena kegiatan yang ada dalam bangunan dna luasnya bangunan, jendela tersebut kurang cukup untuk memasukka sinar matahari ke dalam ruangan.
  1. Pengaruh Aspek Angin
Di Gedung Soedarto, sirkulasi angin tidak terlalu terasa, dikarenakan sedikitnya bukaan yang sebagai jalur keluar masuk angin. Tetapi, gedung ini terbantu oleh vegetasi yang sangat banyak di sekitar gedung, sehingga di area luar gedung Soedarto terasa pergerakan angin. 
Namun, di bagian barat gedung ini sedikit terdapat vegetasi yang bisa menciptakan udara. Vegetasi sangat lebat terdapat di sisi bagian utara dan selatan. Cross ventilasi tidak bisa terjadi antara bagian barat dan timur karena bagian timur terhalang oleh dinding dinding massive.
  1. Pengaruh Aspek Hujan
Gedung Soedarto menggunakan atap genting. Selain berfungsi untuk mengolah panas dalam ruangan, membantu mengalirkan air hujan dari atas ke bawah yang dijatuhkan melalui tritisan. Dari tritisan, jatuh ke parit. Meski terkadang angin membelokkan arah jatuh air, namun fungsi parit dan letaknya cukup berfungsi.
Di sisi bagian barat gedung ini, ada 2 bagian lapisan atap. Ada yang dilapisi genting, ada pula yang hanya dilapisi dak beton. Dak beton melapisi bagian dropoff. Air hujan pada area ini tertampung di atap, kemudian dialiri melalui pipa pipa yang jatuh langsung ke tanah dan vegetasi. Untuk bagian entrance, atap menggunakan atap genting yang aliran air hujannya jatuh ke parit.
Refrensi

  1. http://basyebanh.blogspot.co.id/2014/06/analisa-pengaruh-iklim-tropis-pada-sisi.html
  2. https://himaartra.wordpress.com/2012/12/10/751/
  3. http://www.astudioarchitect.com/2011/02/tentang-arsitektur-tropis-untuk.html
  4. http://abarchitects.blogspot.co.id/2013/10/arsitektur-tropis.html
  5. Bangunan arsitektur yang ramah lingkungan menurut konsep arsitektur tropis

Sunday, 6 November 2016

Tipologi Pemukiman Rumah Adat Toraja

Sebelum kita membahas mengenai tipologi rumah adat Toraja, saya akan memaparkan definisi singkat mengenai perumahan dan pemukiman


DEFINISI PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN

Jadi, pengertian Perumahan dan Permukiman Dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman, perumahan diartikan sebagai kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana. Secara fisik perumahan merupakan sebuah lingkungan yang terdiri dari kumpulan unit-unit rumah tinggal dimana dimungkinkan terjadinya interaksi sosial diantara penghuninya, serta dilengkapi prasarana sosial, ekonomi, budaya, dan pelayanan yang merupakan subsistem dari kota secara keseluruhan. Lingkungan ini biasanya mempunyai aturan-aturan, kebiasaan-kebiasaan serta sistem nilai yang berlaku bagi warganya.

Setelah mengetahui definisi dari perumahan dan pemukiman, berikut saya paparkan hasil survey saya bersama kelompok saya yaitu kelompok 8 mengenai rumah adat toraja di TMII. Hasil survey dibawah ini sudah saya gabungkan dengan literatur yang saya dapatkan dari berbagai sumber

 HASIL SURVEY
1.1 Survey Sejarah Arsitektur

 Rumah adat orang Toraja sendiri dibagi menjadi beberapa tingkatan atau beberapa kasta. Diantaranya yang pertama adalah orang bangsawan tinggi atau Tana Bulaan, yang mempunyai derajat yang paling tinggi. Kemudian yang kedua adalah Tana Bassi yang merupakan bangasawa rendah. Yang ketiga adalah warga atau orang biasa yang merdeka yaitu Tana Karurung. Dan yang terakhir adalah budak atau Tana Kua Kua. Adat Toraja banyak menganut pencampuran adat dari mesir dan juga dari cina. Mengadopsi dari mesir orang Toraja menggambil sisi dimana ketika ada warga yang meninggal tidak langsung dikubur melaikan harus disimpan dulu didalam rumah sampai waktu tertentu. Waktu itu biasanya tergantung dari berapa lama harta orang tersebut yang terkumpul agar bisa dimakamkan. Pemakaman orang Toraja pun banyak mengadopsi dari mesir yaitu tidak dikubur didalam tanah, melaikan di dalam batu, bedannya dengan orang mesir adalah orang mesir dikubur didalam piramida sedangkan orang Toraja dikubur didalam batu. Namun orang Toraja yang dapat dikubur didalam batu pun tidak sembarangan orang hanya orang-orang bergelar bangsawan yang boleh, setelah dikubur pun mereka akan dibuatkan patung menyerupai diri mereka dan akan diukirkan pahatan pada tiap pintu batu. Juga keluarga akan menyembelih kerbau, dan nantinya tanduk kerbau akan ditempatkan didepan rumah sebagai pertanda seberapa tingginya kasta sang penghuni. 

1.2 Survey Arsitektur Rumah Adat Toraja
 a. Bentuk
Tongkonan merupakan rumah adat yang berbentuk rumah panggung dari kayu. Kolong di bagian bawah rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Bentuk atap rumah tongkonan melengkung dan dilapisi ijuk hitam. Ada yang mengatakan bentuknya seperti perahu telungkup atau tanduk kerbau Dari hasil survey saya ke TMII untuk melihat secara langsung bentuk dan bagaimana rupa dari rumah adat Toraja, ada beberapa data dan hasil survey yang bisa saya berikan. Diantaranya, yang pertama adalah sejarah asal muasal mengapa bentuk dari rumah adat Toraja berbentuk seperti sekarang ini. Jadi rumah adat Toraja sebenarnya berasal dari sebuah perahu yang dirubah dan dijadikan sebuah rumah. Itu sebabnya bentuk dari atap rumah adat Toraja berbentuk seperti sebuah perahu. Sebab mengapa rumah adat Toraja berbentuk seperti perahu adalah karena pada zaman dahulu saat nenek moyang warga Toraja akan bermigrasi menggunakan perahu, namun karena dalam perjalanan perahu yang digunakan untuk bermigrasi untuk mencari daratan baru itu kandas ditengah jalan, sehingga dibuatlah rumah dari perahu tersebut. Itu sebabnya rumah adat Toraja yang kita lihat sekarang berbentuk seperti sebuah perahu. Budaya ini mengadopsi dari budaya cina secara arsitektur, yaitu membangun rumah dari sebuah perahu.

 b. Tampak
Rumah adat yang pertama yaitu untuk rumah bangsawan atau Tana bulaan, mereka biasanya menempatkan tanduk kerbau terbaik didepan rumah mereka biasanya 12 sampai 24 tanduk kerbau. Semakin banyak semakin tinggi kasta atau semakin kaya sang memilik rumah. Kemudian untuk bangsawan rendah atau Tana Bassi biasanya mereka menaruh 6 sampai 8 tanduk kerbau terbaik didepan rumah mereka. Kemudian untuk warga atau orang biasa yaitu Tana Karurung biasanya mereka menaruh 3 sampai 4 tanduk kerbau didepan rumah mereka. Sedangkan untuk Tana Kua Kua atau budak tidak diperbolehkan menaruh tanduk kerbau didepan rumah mereka.
dinding dan struktur
Untuk dinding kayu dari rumah adat Toraja sendiri memiliki cara yang disebut tominaah, mereka menggunakan kayu uruh yang banyak terdapat didaerah sekitar mereka tinggal. Tominaah itu sendiri adalah tahapan yang harus dilalui sebelum seseorang membangun rumah. Jadi orang Toraja pergi kehutan untuk mencari pohon yang sesuai kemudian mereka potong, laku mereka diamkan didalam lumpur atau air yang mengalir selama satu satun bahkan lebih fungsinya untuk menghindari kayu dari rayap. Setelah direndam selama satu tahun kayu diangkat lalu dipotong-potong lantas dijemur selama satu sampai dua bulan. Ketahanan kayu yang sudah melewati tahapan-tahapan ini bisa bertahan hingga 70 tahun lamanya. Untuk kolom atau penopang pada rumah adat Toraja, biasanya rumah mereka langsung bertopang pada dinding dan tidak menggunakan kolom atau tiang sebagai penyangganya. Kemudian rumah mereka dibuat tinggi dan tidak rata dengan tanah dengan alasan karena ditempat asal adat Toraja masih banyak terdapat hewan buas sehingga untuk menghindari itu dibuatlah rumah panggung atau rumah yang tinggi, dan dibawahnya biasanya dijadikan sebagai tempat hewan-hewan ternak dipelihara seperti kerbau, babi, ayam dll.

 c. Denah dan Tata Letak

Tata ruang dari rumah Toraja bergelar bangsawan adalah sumbung, yang terdiri dari kamar ayah dan ibu yang sekaligus dijadikan kamar mayat atau kamar penyimpanan mayat sebelum akhirnya mayat ditaruh didalam batu. Biasanya apabila yang meninggal adalah sang istri maka suami akan tidur disamping sang istri begipula sebaliknya. Sumbung itu sendiri memiliki ketinggian yang berbeda dari ruangan lainnya. Kemudian ada yang namanya salih, dimana biasanya dijadikan sebagai tempat tidur dari anak laki-laki pada malam hari dan merupakan dapur sekaligus tempat makan pada pagi dan siang harinya. Salih memiliki ketinggian yang berbeda dari sumbung yang merupakan kamar tidur ayah dan ibu. Kemudian ada kamar tidur untuk anak perempuan yang namanya paluang, ketinggian dari kamar tidur ini sama dengan sumbung namun berbeda dengan salih yang lebih rendah. Jadi secara keseluruhan ruangan dalam rumah adat Toraja yang bangsawan terdiri dari 3 ruangan. Untuk kamar mandi dari orang Toraja tidak terletak didalam rumah mereka, melaikan terletak diluar rumah. Untuk pintu dan jendela adat Toraja memiliki ukuran yang kecil dikarenakan letak tempat tinggal orang Toraja yang berada di dataran tinggi menyebabkan udara mereka menjadi sejuk bahkan dingin, mengakibatkan mereka membangun rumah dengan bukaan yang tidak terlalu besar. Yaitu pintu dan jendela-jendela yang dibuat tidak terlalu besar. lumbung padi Lalu biasanya tiap-tiap bangsawan Toraja memiliki lumbung padi sendiri, berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi. Lumbung padi itu sendiri diartikan sebagai jantan atau seorang lelaki sedangkan rumah orang Toraja yang diartikan sebagai betina atau yang perempuan dengan maksud mencerminkan semakin banyak lumbung padi yang dimiliki maka semakin kaya juga seorang lelaki tersebut. atap bambu Untuk atap dari rumah bangsawan adat Toraja terbuat dari bambu, memiliki lubang-lubang udara. Terbuat dari bambu yang dipotong dua kemudian disusun dengan arah yang terbalik dengan maksud melambangkan jantan dan betina.

 D. Potongan
motif-motif pada rumah toraja E. Detail dan Filosofi Kemudian rumah adat Toraja identik dengan ukiran-ukiran pada tiap sisi dinding rumahnya. Namun dalam adat Toraja hanya rumah bangsawan tertinggilah yang boleh mengukir dinding rumahnya. Tiap ukiran pada dinding pun mempunyai arti dan makna sendiri-sendiri. Sedangkan untuk bangsawan rendah biasanya rumah mereka hanya dicat berwarna hitam tanpa diukir. Sedangkan untuk rumah orang biasa rumahnya tidak dicat dan juga tidak diukir. Dan untuk para budak rumah mereka biasanya terbuat dari bambu bukan dari kayu seperti rumah pada bangsawan dan orang biasa lainnya.
Arti dari ukiran yang ada pada rumah adat Toraja bermacam-macam, diantaranya ukiran kerbau yang biasanya terdapat pada dinding luar rumah adat toraja, mengartikan kerbau sebagai hewan yang sakral juga sebagai alat ukur dari kekayaan seseorang. Kemudian ukiran kedua yaitu ayam, lambang dari pemimpin yang adil, rajin bekerja seperti ayam, sifat melindungi yang diambil dari seekor ayam, ayam jantan melindungi sang betina, ayam betina melindungi anak-anaknya. Kemudian yang ketiga ada bunga mawar yang dilambangkan seperti kuku kuda, maknanya kita harus kuat dalam menahan beban kehidupan ini. Kemudian ada juga yang ukiran yang berbentuk seperti melingkar seperti bambu, ini artinya apabila kita bersatu seperti bambu kita akan kuat dan tidak mudah dipatahkan.
cat yang dibuat oleh bahan alami Ada beberapa warna yang menjadi ciri khas dari adat Toraja diantaranya, warna putih karena sebagai lambang keikhlasan, kemudian warna kuning melambangkan emas asa tau harapan lambang dari kejayaan. Warna yang identik dari adat Toraja yang biasanya digunakan untuk mewarnai ukiran dari rumah-rumah mereka adalah merah, putih, kuning dan hitam. Semua warna berasal dari pewarna alami, warna merah diambil dari tanah liat, putih dari kulit-kulit siput, warna kuning diambil dari kunyit dan yang terakhir warna hitam diambil dari arang.

 REFRENSI
1. http://www.pepih.com/1039/desain-arsitektur-rumah-adat-toraja.html
2. http://rumahbagus.info/mengenal-desain-arsitektur-rumah-adat-toraja/
3. http://dunia-kesenian.blogspot.co.id/2014/11/rumah-adat-tongkonan-asal-daerah-toraja.html
4. wikipedia.com
5. google.com
6. blogspot.com